This is Carita Pondok, Lur haha!

Tema: Fantasy, hurt/comfort, romance, friendship.
THE EYES
           Gadis cantik berparas manis dan imut terbangun dari tidur nyenyaknya semalaman. Ia menggeliat sambil berjalan gontai menuju jemuran dan mengambil handuk. Netra biru langitnya melirik jam yang ada di meja riasnya. Pukul 06.30.
           “Oh God…” seru si gadis yang langsung gelagapan menuju kamar mandi.
           Sial baginya jika dihari pertama harus terlambat masuk sekolah. Hari pertama masuk sekolah jika terlambat hukumannya lebih berat daripada hari biasa, apalagi dia sudah menjadi kakak kelas sekarang.
           Gadis itu turun ke bawah dan segera menyiapkan makanan untuk anjing jenis akitanya. Dia mengelus puncak kepala anjing kesayangannya itu.
           “Jaga rumah baik-baik Juno, aku akan segera kembali lagi” teriak sang gadis diiringi dengan suara pintu gerbang yang tertutup.
.
.
.
           SMAN 1 Bandung sedang ramai-ramainya dihari pertama masuk sekolah. Jumlah siswa baru tahun ini lebih banyak dibanding tahun-tahun yang lalu. Seperti biasa, hari pertama dibuka dengan upacara penyambutan serta halal-bihalal antar umat beragama.
“Kemana si Ardra ini, kalau telat bisa-bisa gagal acara MOS tahun ini” gelisah seorang gadis berambut coklat pendek.
           “Betharia!” teriak gadis imut dan manis yang ternyata bernama Ardra itu.
           “Ardra! Dari mana saja kau ini? Semua sudah hadir kecuali kamu tau” kesal gadis berambut coklat yang bernama Betharia.
           “Maaf-maaf, ayo segera ke dalam barisan,” ajak Ardra pada Betharia. Betharia pun mengikut Ardra.

           Bel berbunyi 3 kali tanda jam pelajaran telah usai. Semua murid berhamburan ke luar ruangan kelas. Ada yang langsung pulang, ada juga yang main dan nongkrong-nongkrong dulu. Berbeda dengan para panitia acara (OSIS) yang keluar kelas langsung belok ke ruang rapat, tentu saja karena ada rapat.
“Halo semua! Sebelum kita memulai rapat mari kita absen anggota dulu” sapa lelaki bernama Bimo, ia lalu memberi isyarat pada teman laki-lakinya untuk mengabsen anak-anak.
           “Aliansyah Fahreza?” Tanya Bayu, yang ditanya hanya ber-hn-ria.
           “Bimo-Bisma Adhyasta?” sebut Bayu cukup keras.
           “Hadir” jawab Bimo dan Bisma, sekedar informasi mereka berdua itu kembar. Walaupun kembar, sifat dan prilaku mereka bertolak belakang.
           “Bayu Bramantio Pamuji, gue, Betharia Viska?” ucap Bayu, yang diabsen hanya mengangkat tangan kanan saja.
           “Desi Nirmala? Felicia Ardra Cheverly?”
           “Hadir” jawab mereka berdua bersamaan. Kemudian Bayu memberi anggukan kecil tanda bahwa semua panitia sudah lengkap.
           “Baiklah kita mulai rapat hari ini, kita akan membahas tentang acara malam keakraban yang diadakan sebagai pengganti MOS. Guru sudah tidak mengijinkan kegiatan MOS jadi kita harus mengganti acara tersebut. Ada usulan siapa pesertanya?” Tanya Bimo selaku ketua OSIS langsung pada intinya.
           “Bagaimana kalau menyanyi?” usul Desi.
           “Boleh juga, kalau drama sih gimana?” usul Betharia.
           “Gimana kalo bla bla bla” usul semua panitia yang ada di situ. Hanya Ardra yang pasif disana. Setelah sekian lama Ardra terdiam, lalu Bimo bertanya pada Ardra apa usul yang dia punya.
           “Bagaimana kalau drama musical? Bukankah kalau ‘menyanyi’ dan ‘drama’ disatukan itu lebih menghemat waktu? Selain itu kita bisa tampilkan berbagai macam pertunjukan dalam drama, am i right?” Tanya Ardra pada semua orang disitu.
Jadilah ide Ardra yang dipakai. Memang acara masih lama sih, di akhir dan di tengah semester ganjil. Jadi ada banyak waktu untuk latihan. Bimo selalu bisa berharap pada gadis pintar satu ini rupanya. Selain pintar, parasnya yang manis dan imut juga menjadi kesenangan tersendiri bagi kaum lelaki. Dia juga termasuk “The Most Beautiful Girls” di SMANSA Bandung.
Setelah rapat OSIS itu selesai, ia pulang bersama dengan Betharia. Sebelum pulang ia mengajak Betharia untuk mengunjungi toko buku. Perjalanan dari sekolah ke toko buku tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 5-10 menit jika jalan kaki.
“Betharia, kau ingin membeli sesuatu?” Tanya Ardra pada Betharia.
“Kau saja, aku hanya ingin menemanimu kali ini. Cukup rumahmu saja yang memiliki perpustakaan pribadi, Ardra.” Jawab Betharia, memang Ardra mempunyai ruangan khusus di rumahnya, isinya buku-buku yang tertata rapih dan satu meja kerja. Seperti perpustakaan mini.
“Kau ingin mencari apa sih?” Tanya Betharia karena sudah lama hanya berputar-putar saja ditempat itu.
“Buku tentu saja” jawab Ardra.
“Aku tau, buku seperti apa? Biar ku bantu, kamu lama sekali saat memilih buku, Ardra” ujar Betharia yang mulai kesal.
Ardra mulai menjelaskan buku seperti apa yang ia cari. 1 novel fantasi horror-mystery, 1 buku rumus fisika, dan 1 buku resep masakan Prancis. Betharia segera memilih buku yang diminta dengan cepat. Ia tahu jika Ardra memilih, bisa sampai 1 jam hanya keliling-keliling saja. Temannya itu memang selektif soal buku yang ia baca. Sangat selektif malah.
“Pilihlah, mahal sedikit tak apa kan?” Betharia menyerahkan beberapa buku pilihannya.
“Terima kasih, aku sudah selesai memilih, ayo bayar” ajak Ardra sambil tersenyum manis.
“Hnn, kamu lama sekali jika memilih hahaha,” ujar Betharia sambil tertawa bersama Ardra.
“Kamu mau menginap dirumahku? Ayo belajar bersama, aku bosan hanya belajar sendiri dirumah…” ajak Ardra, ia terlihat kesepian kali ini.
“Maaf mungkin lain kali Ardra, aku harus mengurus adik kembarku yang baru lahir. Kasihan ibuku kalau aku pergi malam ini,” Tolak Betharia halus.
“Oh yasudah tidak apa-apa. Akhir pekan ini aku akan berkunjung ke rumahmu, aku ingin melihat adik-adikmu itu hehe” ujar Ardra.
“Aku tunggu,” ucap Betharia sambil tersenyum hangat. Mereka lalu berpisah di persimpangan jalan.
“Hari yang sangat melelahkan,” pikir Betharia.
“Kita tidak bisa biarkan ini terjadi! Kita tetap harus melindunginya! Apa kau ingin harta kita dijarah oleh musuh lagi?!” bentak seorang lelaki.
“Dari mana kau tahu dia adalah harta itu?” Tanya seorang lelaki yang lebih tua dan berwibawa. Tampak seperti seorang bangsawan.
“Firasatku selalu benar, Pangeran,” jawab lelaki tadi pada sang Pangeran.
“Aku tak ingin mengandalkan firasat yang tak pasti, Jendral Bimo! Aku ingin bukti yang konkrit!” kesal sang Pangeran.
“Baiklah! Aku sendiri yang akan lindungi sang harta. Akan aku buktikan padamu dialah yang paling berharga. Aku undur diri, Pangeran,” ucap Bimo, lalu pergi dari hadapan sang pangeran.
Bimo berjalan memasuki suatu ruangan. Ditengah ruangan itu terdapat satu gerbang yang bersinar terang. Netra forest green-nya bergerak kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Lalu fokusnya terpaku pada satu tempat, ia melihat gadis cantik terduduk di samping gerbang itu. Bimo menghampiri gadis tersebut.
“Segera berangkatkan aku menuju bumi,” ucap Bimo pada gadis itu.
“Bimo, kau serius? Bagaimana dengan saudara-saudaramu? Bagaimana dengan kerajaan ini?”  Tanya gadis itu tampak khawatir.
“Akan kuberitahu mereka nanti,” jawab Bimo. Air mukanya tampak tidak enak sekali.
Brak!
“BIMO ADHYASTHA!” teriak lelaki yang sangat mirip dengan Bimo. Ada satu lelaki lagi di belakangnya.
“Kenapa kau kemari?” tanya Bimo kesal.
“Kenapa?! Tentu saja aku menyusulmu, bodoh! Kau ingin tinggalkan kerajaan?!” tanya lelaki itu sama kesalnya.
“Tak ada gunanya aku disini, aku tinggalkan kerajaan ini juga untuk kerajaan ini! Para pemimpin itu tak bisa membedakan mana yang paling berharga dan yang tidak!” jawab Bimo semakin kesal.
“Kalau begitu ajak kami, kami adalah saudaramu!” bentak lelaki itu.
“Tidak, Bisma! Kamu dan Bayu adalah adik-adikku yang sangat berharga. Aku tak bisa biarkan kalian terluka,” larang Bimo tegas.
“Bimo, kami adalah saudaramu juga timmu. Tega sekali kamu jika meninggalkan timmu seperti ini!” Bayu (lelaki yang berada di belakang Bisma) itu mulai angkat bicara.
“Kalian berdua ini memang keras kepala, perlu bersiap tidak? Kalau tidak kita langsung berangkat saja,” ucap Bimo yang menyerah.
“Tentu saja kita perlu bersiap! Berpikirlah dengan kepala dingin, Bim” ucap Bisma sambil memegang pundak Bimo.
“Jadi, kapan kalian akan pergi?” tanya gadis cantik itu, ia bernama Pharasmitha.
“Mungkin 3 hari lagi, terima kasih Mitha. Kamu selalu membantu kami,” ucap Bimo, Pharasmitha tersenyum hangat.
3 hari kemudian mereka berkumpul lagi disana. Mereka sudah persiapkan segalanya. Bimo menghampiri Pharasmitha dan menggenggam tangannya.
“Mitha…” ucap Bimo, lalu mendekap tubuh indah itu dengan erat, yang dipeluk hanya membalas memeluk.
“Aku akan sangat merindukanmu. Cepatlah pulang,” ucap Pharasmitha sedih. Bimo melonggarkan pelukannya dan menatap netra orchid milik Pharasmitha. Tiba-tiba terdengar suara dobrakan pintu.
“Pharasmitha! Jangan pernah kamu buka gerbang itu!” bentak Pangeran, ia membawa sejumlah prajurit.
“Sekali saja biarkan aku lakukan apa yang ku inginkan!” bentak Pharasmitha.
“Gadis ini! Tangkap dia!” teriakan pangeran memenuhi seluruh ruangan. Prajurit-prajurit itu langsung menangkap Pharasmitha.
Seketika mata Pharasmitha menyala, gerbang pun terbuka perlahan menampilkan cahaya terang sekali.
“Sekarang, Bimo!” teriak Pharasmitha. Bimo hanya menatap ragu kekasih hatinya itu dan gerbangnya.
“Aakkh!” teriak Pharasmitha, lalu ia merasakan darah merembes dari bajunya. Bimo langsung panik dan menghajar prajurit yang telah menusukkan pedangnya pada Pharasmitha. Ia langsung memangku kepala Pharasmitha.
“Pergilah, akan ku gunakan sisa kekuatanku untuk menahan pintu gerbang itu,” ucap Pharasmitha lemah.
“Tidak! Aku tak bisa tinggalkan kamu disini, ayo sama-sama ke bumi!” ajak Bimo sedih.
“Tak ada gunanya, aku hanya akan menjadi beban. Pergilah, sayang, aku mencintaimu” ucap Pharasmitha.
“Pharasmitha, sayangku, aku juga mencintaimu,” ucap Bimo sambil mengecup kening sang kekasih, lalu segera berlari menuju gerbang tersebut diikuti 2 saudaranya.
Mata Pharasmitha menyala sangat terang, dengan sisa tenaganya ia menahan pintu itu tetap terbuka. Bimo sempat berbalik dengan air mata mengalir di pipinya. Pharasmitha hanya tersenyum hangat, untuk yang terakhir kalinya. Lalu kesadarannya mulai menghilang seiring tertutupnya pintu gerbang tersebut.
“Arggh!” teriak Bimo, dia terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya.
“Sial, mimpi buruk ini terus menganggu!” ucap Bimo dalam hati, ia lalu pergi ke dapur dan menyeduh secangkir teh. Ia lalu pergi ke taman dan duduk di bangku.
“Pharasmitha…” gumamnya dengan tatapan sendu.
“Aku bersumpah akan menjaga harta itu sebagaimana kau mengorbankan nyawamu untukku, Pharasmitha…” ujar Bimo penuh keyakinan.
“Bim, ngapain?” tanya Bisma dari dalam rumah.
“Cuma mencari angin, kamu sendiri ngapain?” tanya Bimo balik.
“Nyari kamu, sama laper malem-malem. Jalan-jalan yuk!” ajak Bisma sambil nyengir kuda.
“Ah kamu, udah malem masih aja ngajak jalan-jalan. Mau kemana sih?” tanya Bimo dengan malas. Ia kembali menyeruput tehnya.
“Ayolah, aku ingin melihat Ardra dan Betharia,” ucap Bisma.
“Kamu ini tidak sopan sekali! Jangan melihat perempuan sedang tertidur kecuali sudah jadi istri,” kesal Bimo.
“Siapa juga yang ingin ngintip, kak. Tapi aku ingin jalan-jalan nih. Tidur lagi pun sudah tidak mungkin, sekarang sudah pukul 03.14. Kamu sih jadi aku tidak bisa tidur,” ucap Bisma menyambar cangkir yang ada di tangan Bimo. Lalu ia meminum isinya. Namun…
“Ini isinya mana?” tanya Bisma.
“Habis lah sudah kuminum, karena cangkirnya ada di tangan kamu sekalian cuci yaa hahahaha” ucap Bimo sambil menepuk-nepuk bahu kembarannya dan berlalu begitu saja.
“Haahh kembaran kurang ajar!” gumam Bisma. Tiba-tiba dia terdiam. Lalu matanya berganti warna dan menyala terang. Ia membentuk bola api kecil berwarna hijau terang di tangannya. Lalu bola itu menghilang.
Grusuk Grasak! Terdengar suara dahan pohon sebelah patah. Lalu ada seseorang yang jatuh ke taman rumah Bisma. Terlihat lubang di punggungnya dan sisa api hijau yang sedikit membakar kainnya.
“Apa maumu?” tanya Bisma dingin. Seseorang itu sedikit merintih dan kemudian berdiri. Merasa sudah tertangkap, dia menjawab dengan takut-takut.
“Aku hanya tersesat. Sesaat yang lalu aku baru tiba disini, di halaman ini. Lalu aku lihat kembaranmu keluar, aku langsung naik ke atas pohon itu. Lalu tiba-tiba aku jatuh karena punggungku terbakar,” jawabnya dengan menunduk takut.
“Benarkah? Aku tak percaya, kau pasti mata-mata! Tak akan kubiarkan kau hidup lebih lama lagi!” bisik Bisma yang sudah ada di belakang orang itu yang ternyata anak kecil dengan mata menyala.
“Ku mohon percayalah padaku, aku bahkan tidak tahu mata-mata seperti apa yang dimaksud olehmu, ku mohon… hiks hiks” isak tangis anak itu mulai pecah saat merasakan ada pisau yang sudah menempel di lehernya.
“Hentikan kak, dia berkata benar. Jauhkan pisaumu itu,” ucap Bayu yang duduk di jendela kamar. Bisma pun menurunkan pisaunya itu dan menjauh dari orang itu.
“Siapa namamu?” tanya Bayu dengan senyum yang hangat. Dia sudah ada di sebelah anak itu.
“Renjana,” jawab anak itu.
“Angkat kepalamu, gadis kecil. Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu sampai bisa ada di halaman kami,” bujuk Bayu pada gadis itu.
“Aku bukan gadis kecil! Aku sudah besar, hanya badanku saja yang kecil!” sentak Renjana. Karena kesal ia langsung mendongak menatap Bayu dengan pipi menggembung dan mata yang besar serta sembab. Lucu sekali.
“Haha oke oke kamu bukan anak kecil,” ujar Bayu sambil terkikik geli.
“Apa yang lucu?” sentak Renjana kembali, dengan wajah seperti tadi ditambah bibirnya yang sedikit manyun menambah kesan imut gadis kecil itu. Bayu perkirakan umurnya sekitar 7 tahunan.
“Tidak ada, ayo masuk dulu dan ganti bajumu,” ajak Bayu sambil tersenyum hangat, gadis itu pun menurut saja.
“Dasar penakluk anak kecil,” ucap Bisma pada Bayu, tentu tidak didengar oleh Renjana.
“Haha dasar monster pengganggu anak kecil,” balas Bayu. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.
“Jadi, bagaimana ceritanya, hmm?” tanya Bayu setengah jam kemudian pada Renjana yang sudah mandi dan ganti baju. Kalian bertanya baju darimana? Tentu saja dari sihirnya Bisma.
“Kuceritakan singkat saja yaa… Aku sama dengan kalian, bedanya aku hidup di alam ke-4, kalian hidup di alam ke-5. Aku juga baru tahu belakangan ini, lalu tiba-tiba ada perang antar-ras yang terjadi di sana. Aku bertanya pada tetua sebelum akhir hidupnya tentang cara untuk kembali ke duniaku. Dia memberi tahu harus melewati gerbang pintu hutan terlarang, saat aku datang ke tempat yang dimaksud, ada 4 gerbang berjejer. Karena ada banyak musuh yang memburuku, aku asal masuk hingga datang ke sini, di taman kalian,” jelas Renjana singkat.
“Oh begitu, bagaimana alam ke-4? Aku tidak pernah diperbolehkan bermain-main kesana haha,” tanya Bayu.
“Menyenangkan, tetapi di sana isinya mahluk-mahluk aneh semua. Tidak ada yang seperti manusia normal, mungkin hanya aku satu-satunya di alam itu hahaha,” jawab Renjana khas anak kecil.
“Hmm, kamu tau? Kita sekarang berada di alam ke-1. Alam ke-1 penghuninya macam-macam, ada hewan, manusia dan tumbuhan. Tetapi manusia disini tidak punya kekuatan khusus, kemampuan fisiknya juga jauh lebih rendah daripada mahluk alam ke-5. Untuk mengatasi hal-hal itu, mereka menciptakan berbagai senjata menakutkan dan rela mengorbankan sesamanya demi mencapai tujuan sendiri, jadi hati-hati,” jelas Bimo yang sudah ikut bergabung.
“Iya iyaa, aku selalu hati-hati kok, oh ya aku tidak tahu nama kalian. Aku kan sudah memperkenalkan diri hehehe,” Renjana memberikan kode keras agar mereka bertiga memperkenalkan diri.
“Hahaha baiklah, namaku Bayu Bramantio Pamuji, panggil aja Bayu, yang sebelah kiri kamu Bisma Adhyastha, yang sebelah kanan kamu Bimo Adhyastha,” terang Bayu yang peka.
“Aaa mereka kembar kak, bagaimana aku bisa tidak salah sebut nanti?” tanya Renjana sambil cemberut, Bisma dan Bimo sontak tertawa bersamaan melihat reaksi anak kecil itu.
“Nanti juga kamu bisa bedain, hahahaha, jangan takut sama mereka berdua yaa,” ucap Bayu ikut tertawa. Renjana? Hanya merengut kesal karena dijadikan bahan tawaan. Tentu saja dia menjadi hiburan tersendiri bagi 3 orang pemuda itu. Tapi sepertinya mereka bertiga akan mengalami hari yang semakin berat.
Dini hari telah berganti menjadi siang, matahari di atas kepala sudah menunjukkan waktu istirahat. Bel pun berbunyi 3 kali tanda untuk pada siswa/i SMANSA Bandung untuk segera menyerbu kantin. Ardra dan Betharia hanya menuju kantin lalu kembali lagi ke kelas.
“Kenapa kalian tidak jajan?” tanya Desi.
“Ramai sekali, aku tidak kuat,” jawab Betharia, ia sedikit kesal karena kejadian ini.
“Berapa bulan lagi kita akan hadapi UTS?” tanya Ardra.
“Bulan? Apa maksudmu? 1 minggu lagi kita UTS Ardra, jangan bilang kamu lupa lagi,” jawab Betharia.
“What?! Duh heran aku juga kenapa bisa lupa gini, ada yang mau nemenin belajar?” tanya Ardra pada mereka berdua.
“Saya, kapan?” tanya seorang lelaki.
“Bayu? Jangan bikin kaget dong,” sentak 3 gadis itu bersamaan. Bayu hanya nyengir sambil melempar pandangan minta maaf.
“Kamu mau belajar bareng? Ayo deh kalau malam ini gimana, Bay?” tanya Ardra semangat.
“Ayo ayo aja, di rumah siapa? Kalau aku ajak kakak kembarku dan satu anak perempuan ga jadi masalah kan?” tanya Bayu bertubi-tubi.
“Satu-satu, Bay. Di rumah aku aja, gapapa ajak aja semuanya sekalian, lagian di rumah cuma ada anjingku saja hahaha,” jawab Ardra senang.
“Ar, maaf kami ngga ikut ya, kami harus jaga adik-adik kami,” ujar Desi. 2 gadis itu memberi pandangan meminta maaf padanya. Ardra hanya tersenyum penuh pengertian.
“Tidak apa-apa, mungkin lain waktu,” ujar Ardra, lalu bel berbunyi dan mereka masuk ke kelas masing-masing.
Rumah Bimo, Bisma, Bayu, pukul 18.05…
“Renjana, kamu ingin tinggal bersama kami bukan? Kamu harus membantu kami kalau begitu,” ucap Bimo pada Renjana.
“Apa itu? Selama masih bisa akan kubantu,” jawab Renjana dengan tersenyum.
“Gampang kok, kamu awasi saja gadis dalam foto ini, namanya Ardra,” Bayu menunjukkan foto Ardra.
“Dari mana kamu dapat foto itu?” tanya Bimo heran.
“Ada deh hehehe,” jawab Bayu, Bimo hanya memberi deathglare pada Bayu.
“Manis sekali, hanya mengawasi kan? Tentu aku bisa, kalau ada yang mencurigakan aku akan laporkan ehehehe,” Renjana menyanggupkan sambil memberi jempol.
“5 menit lagi kita akan pergi ke rumahnya, kamu adalah adik sepupu kami, jadi panggil kami kakak ya,” Bisma merangkul Renjana.
“Baiklah baik, kak Bisma,” Renjana hanya mendengus kesal, dia itu seumuran dengan mereka bertiga.
“Bagus, siapkan dirimu ya, kamu sudah bisa telepati kan?” tanya Bayu.
“Sudah, kak,” jawab Renjana.
“Ayo kita pergi,” ajak Bimo. Lalu mereka semua berteleportasi ke rumah Ardra.
Ting Tong!
“Tunggu sebentar,” ucap seseorang dari dalam rumah.
“Halo,” sapa mereka ber-4.
“Hai, ayo masuk,” ajak Ardra.
“Siapa namanya, adik manis?” tanya Ardra. Renjana takjub dengan paras Ardra, ternyata kalau dilihat lebih dekat Ardra jauh lebih imut dan manis.
“Renjana, kakak, salam kenal,” jawab Renjana kembali memamerkan cengirannya.
“Nama yang bagus,” puji Ardra.
“Ar, kok cuma dia sih yang di ajak ngobrol, aku engga?” tanya Bayu dengan tampang memelas.
“Hahaha maaf maaf, adik kalian terlalu lucu sih,” jawab Ardra sambil tertawa. Mereka berhenti di balkon rumah Ardra. Disana ada Juno sedang tidur-tiduran.
“Wouf!” Juno menggonggong ketika melihat tuannya bersama dengan banyak orang. Renjana langsung meringsut ke belakang Ardra karena takut, maklum anjingnya Ardra jenis Akita inu.
“Tenanglah, dia hanya ingin kenalan kok,” Ardra lalu mengajak mereka semua duduk.
Sementara mereka semua belajar bersama, Renjana bermain bersama Juno. Mereka akrab sekali. Balkon rumah Ardra cukup luas untuk tempat bersantai. Balkon itu dilengkapi pagar setinggi 50 cm. Renjana berlari-lari disekitar mereka bersama Juno.
“Jangan dekat-dekat dengan pagar, ya” ujar Ardra memperingatkan. Renjana terus berlari-lari tidak mengindahkan perkataan Ardra. Setelah capek bermain, Renjana pun duduk di atas pagar itu, lalu tiba-tiba Juno menerjangnya kembali mengajaknya bermain. Sontak Renjana pun kehilangan keseimbangan, dan-
“Kyaaa!!!” -Renjana terjatuh dari ketinggian 3 meter.
“Ah!” Ardra langsung berlari ke arah Juno. Tanpa sadar ia ulurkan tangannya dan Renjana melayang di udara. Ardra mengangkat Renjana ke atas.
“Huhuhu… hiks hiks~” tangisan Renjana pun pecah saat Ardra memeluknya. Bimo, Bisma dan Bayu kaget, bukan karena Renjana jatuh tapi karena Renjana melayang.
“Apa kekuatannya sudah bangkit?” pikir Bimo.
“Renjana kamu tidak apa-apa? Kan sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan pagar,” ucap Ardra melepas pelukannya. Ia terlihat sangat khawatir.
“Ar, matamu…” gumam Bimo, dia kaget melihat mata Ardra menyala terang. Ardra sendiri kaget saat melihat matanya.
“A-ak-aku tidak tahu, aku tidak sadar, bagaimana ini?” tanya Ardra ketakutan.
“Tenanglah Ar, tenang,” ujar Bisma. Ardra pun mengikuti instruksi dari Bisma. Matanya pun normal kembali.
“Bagaimana bisa…” gumam Ardra bingung. Bimo menghela napas dengan berat.
“Tentu bisa, kami pun bisa melakukannya. Kamu bisa melakukan yang lebih hebat daripada itu,” ujar Bisma sambil senyum, wajah tanpa dosa. Bimo menyikut pelan dada kembarannya itu.
“Ar, ayo ikut kami,” lalu mereka semua berteleportasi.
Cahaya menyambut kedatangan Ardra disana, menari-nari berlatarkan langit malam. Angin malam berhembus pelan meniup tubuh Ardra. Dingin, itu yang Ardra rasakan pada kulitnya bahkan tulangnya. Setelah matanya kembali fokus, ia melihat banyak sekali titik-titik cahaya disana. Jika diperhatikan lebih detail, kita bisa melihat sesosok seperti peri. Ardra terbangun, ia lalu berpikir sejenak. Ia ingat tadi sempat pingsan sesaat setelah sampai ditempat tersebut.
“Dimana aku?” gumamnya pelan. Ia berada di tengah-tengah padang rumput. Netra birunya mencari-cari 4 orang yang membawanya kemari, setidaknya itulah yang dia pikirkan.
“Ardra! Sudah sadar?” tanya Bimo, Ardra tidak langsung menjawab melainkan ia bengong melihat mata Bimo berganti jadi hijau terang, dan matanya menyala.
“Ar, maaf kami tinggal bentar tadi,” ujar Bisma, yang matanya juga menyala.
“Mata kalian… kenapa?” tanya Ardra yang sedikit bergumam. Bimo dan Bisma langsung saling berpandangan, seketika tawa mereka pecah melihat kebingungan Ardra. Mereka tertawa lepas sekali, tawa yang sangat langka.
Setelah puas tertawa, mereka berdua kembali melihat Ardra. Bisma menjawab, “Ardra, sudah kami bilang, kami bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus manapun, kami tahu kamu bingung. Kamu bisa berdiri? Kami ingin tunjukan sesuatu,” Bisma membantu Ardra berdiri.
Bimo menarik napas dalam-dalam, menutup mata untuk mengumpulkan konsentrasi. Ia membuka mata, ditangannya sudah ada bola-bola api berwarna hijau. Semakin lama bola-bola itu semakin besar, bola api hijau itu pun dihantamkannya ke batu besar yang ada di ujung padang rumput tersebut. Dan batu itu hancur berkeping-keping.
Ardra terperangah, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia adalah salah satu orang yang tidak terlalu mempercayai dunia mistik seperti ini. Menurutnya semua ini hanyalah dongeng anak kecil yang tidak berguna bagi kehidupannya. Setidaknya itulah yang diajarkan padanya.
“Bagaimana bisa?” tanya Ardra hampir seperti berbisik.
“Kamu ingat dongeng tentang berbagai peri? Mereka nyata, bukan sekedar cerita anak-anak. Dan alam inilah buktinya. Ingatkah kamu soal para penyihir dan para ksatria? Mereka juga nyata, kami adalah buktinya,” ujar Bimo.
“Kalian… Renjana, kamu juga bisa melakukan itu?” tanya Ardra takut-takut, berharap Renjana adalah manusia normal.
“Tidak,” Ardra menghela nafas lega. “Tapi aku bisa melakukan ini!” seru Renjana dengan cengirannya. Matanya berubah warna menjadi indigo. Lalu dia mengarahkan tangannya ke langit dan datanglah griffin berbulu biru gelap mengkilat. Matanya berupa api biru yang terang membelah kegelapan. Ia terlihat bersahabat dengan Renjana.
“Astaga, apakah itu?” pekik Ardra kaget. Sontak griffin itu menoleh pada Ardra lalu mendekatinya.
“Renjana, bagaimana ini?” tanya Ardra panik, Renjana hanya cengar-cengir saja.
“Halo, aku Grigo! Aku ini griffin!” ucap Grigo, griffin biru gelap itu.
“Kamu bisa bicara? Waw,” ucap Renjana takjub, “Darimana asalmu? Aku tidak pernah melihatmu di alam ke-4,” tanya Renjana yang sudah berlari ke arah Grigo. Dia mengelus leher Grigo, bulunya lembut sekali.
“Aku berasal dari alam ke-4, tapi aku tidak tinggal disana. Aku baru saja pulang kemarin dan akan berangkat lagi tapi kamu memanggilku, siapa namamu?” jelas Grigo.
“Namaku Renjana, kamu mau tidak jadi temanku?” tanya Renjana, khas anak kecil.
“Tentu saja,” jawab Grigo hangat. Renjana langsung memeluk leher Grigo dan naik ke punggungnya. Ia mengajak Ardra untuk menunggangi Grigo juga.
“Apa kamu yakin? Aku rasa ini tidak bagus…” Ardra ragu-ragu untuk menaiki Grigo. Walaupun begitu, dia tetap naik ke atas punggungnya.
“Ayo terbang!” teriak Renjana senang. Grigo membentangkan kedua sayapnya. Begitu besar dan lebar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkenalan